Waspada Masker Kesehatan Palsu, Ini 4 Cara Bedakan dengan yang Asli

  • Share

[ad_1]

VIVA – Isu masker palsu kini telah beredar luas di masyarakat. Disebut masker palsu, karena tidak sesuai dengan standar medis dan berpotensi meningkatkan risiko penularan virus COVID-19.

Pandemi ini cukup membawa banyak perubahan, khususnya dalam kehidupan sehari-hari. Barang-barang seperti masker, hand sanitizer, dan disinfektan sudah menjadi kebutuhan wajib demi menjaga dan melindungi diri kita dari wabah COVID-19.

Sangat disayangkan, tingginya permintaan barang membuat banyak oknum jahat yang memanfaatkan hal ini sehingga mengakibakan munculnya masker kesehatan palsu.

Pada awal pandemi, harga masker sempat melambung tinggi. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per kotaknya, masyarakat berbondong-bondong membeli masker kesehatan untuk melindungi diri dari virus. Seketika masker medis pun menjadi barang yang langka saat itu.

Seiring berjalannya waktu, masker medis kembali normal dan bisa didapatkan dengan harga yang terjangkau. Sayangnya ketika masyarakat sudah memiliki akses yang lebih mudah untuk mendapatkan masker medis ini, muncul isu beredarnya masker kesehatan palsu.

Kementerian Kesehatan RI menghimbau masyarakat untuk waspada akan masker kesehatan palsu yang beredar di pasaran. Masker palsu ini adalah masker yang diproduksi tidak sesuai dengan standar kesehatan sehingga ini memiliki efektivitas yang rendah dalam mencegah penyebaran virus.

Menurut pihak Kemenkes, masker medis palsu yang beredar di pasaran bisa berupa masker bedah dan masker respirator. Barang palsu ini memiliki kualitas yang buruk dan dikhawatirkan malah akan menambah risiko pemakainya tertular virus COVID-19.

“Ada pula masker non-medis yang dijual sebagai masker medis di pasaran. Masker non-medis ini umumnya digunakan di industri pengecatan, pertambangan, atau perminyakan dan berfungsi untuk melindungi pernapasan dari debu dan polusi,” ucap Arianti Anaya, Plt Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Farmalkes) Kemenkes RI.

“Yang disebut sebagai tidak sesuai dengan peruntukannya adalah misalnya masker itu sebenarnya bukan masker alat kesehatan, tapi diklaim sebagai masker alat kesehatan. Ini akan ditindaklanjuti karena tentunya ini akan menyesatkan masyarakat,” ungkap Arianti.

Pihak Kemenkes sendiri bekerja sama dengan aparat hukum untuk menindaklanjuti peredaran masker palsu dan ilegal tersebut. Menurut Arianti, Kemenkes juga telah melakukan penyitaan terhadap beberapa merek masker non-medis yang diklaim sebagai masker medis dan terbukti tak memiliki izin edar.

[ad_2]

Source link

  • Share
Auto Generate Link