Arkeolog Temukan ‘Kota Emas yang Hilang’ di Mesir

  • Share

[ad_1]

VIVA – Tim arkeolog dari Mesir telah menemukan kota kuno terbesar di Mesir pada hari Kamis (8/4/21), dilansir oleh Live Science. Kota yang hilang, yang dikenal sebagai aten terkubur gurun pasir selama 3400 tahun.

Seorang ahli arkeologi terkenal di Mesir, Zahi Hawass, mengatakan kota emas ini ditemukan di dekat Luxor, rumah dari Lembah Para Raja yang legendaris.

Luxor terkenal dengan situs Mesir tertua dan paling kuno, bersama dengan rumah bagi Lembah Para Raja. Daerah ini pernah disebut  Nekropolis Besar Jutaan Tahun Firaun , karena sejumlah mumi dan bangunan besar telah ditemukan di Luxor (Sumber : https://commons.wikimedia.org/w/index.php?search=&title=Special:MediaSearch&go=Go&type=image)

Luxor terkenal dengan situs Mesir tertua dan paling kuno, bersama dengan rumah bagi Lembah Para Raja. Daerah ini pernah disebut ‘Nekropolis Besar Jutaan Tahun Firaun’, karena sejumlah mumi dan bangunan besar telah ditemukan di Luxor. (wikipedia)

Kota yang hilang ini, diduga merupakan peninggalan masa kekuasaan Amenhotep III, ayah dari Amenhotep IV yang berganti nama menjadi Akhenaten.

Ian Shawn dalam bukunya The Dictionary of Ancient Egypt menjelaskan bahwa Amenhotep III merupakan salah satu firaun paling kuat di Mesir, raja kesembilan dari dinasti ke-18 Mesir kuno yang memerintah dari 1391 hingga 1353 SM.

Amenhotep III mewarisi kerajaan yang membentang dari Sungai Efrat di Irak modern dan Suriah hingga Sudan. Ia meninggal sekitar 1354 SM. Ia memerintah selama hampir 40 tahun.

Masa kepemimpinannya terkenal dengan kemewahan dan kemegahan bangunan. Salah satunya adalah Colossi of Memnon, dua patung batu besar di dekat Luxor yang menggambarkan Amenhotep III dan istrinya.

Para Arkeolog mengira Akhenaten membangun kota Akhetaten yang berumur pendek, di mana dia memerintah bersama istrinya, Nefertiti dan menyembah matahari. Setelah kematiannya, putranya yang masih kecil, Tutankhamun, menjadi penguasa Mesir dan meninggalkan warisan kontroversial ayahnya.

Tetapi mengapa Akhenaten meninggalkan Thebes, yang telah menjadi ibu kota Mesir kuno selama lebih dari 150 tahun? Jawabannya mungkin terletak pada penemuan sebuah kota metropolis kerajaan industri di dalam Thebes yang diwarisi Akhenaten dari ayahnya, Amenhotep III. Penemuan yang dijuluki sebagai “Kota Emas Yang Hilang”

“Informasi berharga ini menegaskan bahwa kota ini aktif pada waktu pemerintahan Raja Amenhotep III bersama putranya, Akhenaten,” kata para arkeolog dalam pernyataan resmi di halaman facebook milik Zahi Hawass.

Tetapi, beberapa tahun setelah kematian ayahnya, Akhenaten, yang memerintah sekitar tahun 1353–1336, memutuskan segala sesuatu yang diperjuangkan ayahnya. Selama 17 tahun pemerintahannya, ia meninggalkan semua panteon tradisional Mesir kecuali satu, dewa matahari Aten.

Akhenaten memindahkan kursi kerajaannya dari Thebes ke Amarna dan mengawasi revolusi artistik yang secara singkat mengubah seni Mesir dari kaku dan seragam menjadi animasi dan detail.

[ad_2]

Source link

  • Share
Auto Generate Link