Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo Blak-blakan soal Kolaborasi Kemenparekraf & Michelin Guide : Okezone Travel

  • Share

[ad_1]

WAKIL Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf), Angela Tanoesoedibjo akhirnya membeberkan sejumlah fakta menarik terkait perkembangan industri kuliner Nusantara.

Beberapa waktu lalu, Wamenparekraf Angela Tanosoedibjo memang baru saja melakukan pertemuan dengan tim Michelin Guide di Kantor Kemenparekraf, Jakarta Pusat.

Pertemuan tersebut rupanya untuk membahas beberapa langkah konkrit Indonesia untuk mengembangkan industri kuliner di berbagai daerah.

“Pertemuan dengan tim Michelin Guide membahas langkah konkret untuk mempromosikan beragam kuliner Indonesia ke seluruh dunia baik yang disajikan. Termasuk membahas restoran maupun street food di Indonesia,” ujar Angela saat menghadiri weekly press briefing di Balairung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Senin (3/5/2021).

Baca juga: Angela Tanoesoedibjo: Inovasi Digital Penting untuk Bangkitkan Sektor Parekraf

Bila kolaborasi ini berjalan lancar, lanjut Angela, kuliner Indonesia akan dikenal lebih luas oleh wisatawan dunia melalui food guide yang dikeluarkan Michelin.

Menparekraf Sandiaga Uno dan Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo

Seperti diketahui, Michelin Guide sendiri merupakan buku panduan perjalanan yang dibuat khusus oleh Michelin untuk para pelanggannya. Penggagasnya ialah Andre Michelin yang menerbitkan buku panduan edisi pertama pada era 1900-an.

Buku panduan itu memuat daftar restoran terbaik dan termahal di dunia, termasuk daftar chef-chef terbaik. Untuk menghasilkan daftar yang kredible, Michelin membentuk tim khusus yang mereka sebut inspektor.

Para inspektor ini dilatih secara khusus, untuk mengunjungi banyak restoran di seluruh dunia untuk mencari yang terbaik. Setidaknya ada lima kriteria penilaian yang membuat restoran atau tempat makan masuk dalam daftar Michelin Guide.

Lima kriteria itu antara lain, kualitas bahan yang digunakan, rasa dan teknik memasak, kepiawaian koki yang memasak, harga, dan jumlah pengunjung yang konsisten.

Penilaian dilakukan secara diam-diam tanpa diketahui sang pemilik restoran. Oh ya! Para inspektor tidak memasukkan dekorasi tempat sebagai elemen penilaian mereka. Itulah sebabnya banyak kedai-kedai kelima yang masuk dalam daftar Michelin Guide bahkan menyabet predikat Michelin Star.

Dari kerjasama ini, Angela pun yakin, tak hanya potensi kuliner Nusantara saja yang akan tampil di kancah internasional, nilai-nilai gastronomi yang dimiliki Indonesia pun akan ikut tersorot.

“Salah satu tujuan orang berwisata itu kan untuk makan. Ketika kita sudah bekerjasama dengan Michelin yang memiliki komunitas cukup besar, wisatawan mancanegara akan tertarik untuk datang, tinggal lebih lama untuk eksplorasi, dan menghabiskan lebih banyak uang untuk mengulik gastronomi Indonesia,” tandasnya.

[ad_2]

Source link

  • Share