Wow! Harga Emas Antam Hari Ini, Melesat ke Rp947 Ribu

  • Share

[ad_1]

Harga emas PT Aneka Tambang (Persero) alias Antam berada di level Rp947 ribu per gram pada Selasa (18/5) pagi. Posisi itu naik Rp10 ribu dari perdagangan sebelumnya yang sebesar Rp937 ribu per gram.

Sementara, harga pembelian kembali (buyback) naik Rp15 ribu dari Rp842 ribu menjadi Rp857 ribu per gram hari ini.

Berdasarkan data Antam, harga jual emas berukuran 0,5 gram senilai Rp523,5 ribu, 2 gram Rp1,83 juta, 3 gram Rp2,72 juta, 5 gram Rp4,51 juta, 10 gram Rp8,96 juta, 25 gram Rp22,28 juta, dan 50 gram Rp44,49 juta. Kemudian, harga emas berukuran 100 gram senilai Rp88,91 juta, 250 gram Rp222,01 juta, 500 gram Rp443,82 juta, dan 1 kilogram Rp887,6 juta.

Harga jual emas tersebut sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) 22 atas emas batangan sebesar 0,45 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Bagi pembeli yang tidak menyertakan NPWP memperoleh potongan pajak lebih tinggi sebesar 0,9 persen.

Sementara, harga emas di perdagangan internasional berdasarkan acuan pasar Commodity Exchange COMEX naik 0,32 persen menjadi US$1.873,6 per troy ons. Sementara, harga emas di perdagangan spot menguat 0,30 persen ke level US$1.872,46 per troy ons pada pagi ini.

Pengamat komoditas Ariston Tjendra Harga mengatakan emas berpotensi melanjutkan penguatan hari ini di kisaran US$1.840 sampai dengan US$1.900 per troy ons. Menurutnya, penguatan emas ditopang oleh rilis sejumlah data ekonomi di AS yang tidak sesuai harapan, meliputi data tenaga kerja dan penjualan ritel.

Dengan data yang masih di bawah ekspektasi, memberikan konfirmasi bahwa kebijakan pelonggaran moneter bank sentral AS, The Fed, masih akan bertahan untuk saat ini.

“Kebijakan pelonggaran ini menekan dolar AS sehingga mendorong naik harga komoditas yang dinilai dalam dolar AS termasuk emas,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Selain itu, kekhawatiran kenaikan angka covid-19 yang memicu lockdown baru di beberapa negara juga ikut memicu kenaikan harga emas. Pasar khawatir hal tersebut akan mengganggu perekonomian sehingga mereka kembali masuk ke emas untuk mengamankan aset.

Di sisi lain, konflik di Timur Tengah juga bisa menjadi pemicu pelaku pasar mengalihkan sebagian asetnya ke emas.

“Apabilla eskalasi konflik terus meningkat, bisa merembet ke masalah perekonomian,” ujarnya.

sc cnnindonesia

[ad_2]

Source link

  • Share
Auto Generate Link