Belajar dari Kasus Ais, Jangan Langsung Labeli Anak Nakal : Okezone Lifestyle

  • Share

[ad_1]

BELUM lama ini, masyarakat dihebohkan dengan berita Ais, seorang anak yang tewas setelah diruqyah. Ironisnya, anak tersebut sudah tewas selama empat bulan tanpa orangtua korban menyadarinya sama sekali.

Kejadian berawal dari ruqyah dilakukan pada Ais. Gadis yang tinggal di Temanggung, Jawa Tengah, ini dianggap terlalu nakal, lantaran tidak bisa mematuhi perintah atau keinginan orangtuanya. Akhirnya orangtuanya pun memanggil orang yang dianggap bisa melakukan ruqyah.

Meski tidak mengkaitkan dengan peristiwa yang terjadi di Temanggung, psikolog klinis anak dan remaja dari Klinik Terpadu Universitas Indonesia (UI), Andini Sugeng mengatakan orangtua harus memahami terlebih dahulu perilaku seperti apa yang ditampilkan oleh anak sehingga ia sampai mendapat label nakal.

“Perilaku nakal biasanya terlihat ketika anak menampilkan perilaku yang dianggap melanggar aturan yang ada di rumah atau suatu lingkungan sosial,” ujar Andini.

“Sementara itu, usia anak akan menjadi gambaran bagaimana perkembangan dan kemampuannya dalam memahami dan bersikap kooperatif terhadap aturan yang berlaku,” lanjutnya.

Penting bagi orangtua untuk memberikan pemahaman kepada anak mengenai aturan-aturan yang diterapkan di rumah. Penggunaan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak juga diperlukan agar tidak terjadi salah paham. “Aturan disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak,” kata Andini.

Dalam menghadapi suatu perilaku anak yang kurang kooperatif, orangtua diharapkan bisa peka terhadap kebutuhan anak. Jangan sampai, karena kurangnya perhatian yang diberikan oleh orangtua, anak menjadi dianggap nakal karena tidak mau mematuhi perintah orangtua.

“Kebutuhan anak tidak hanya sebatas kebutuhan yang bersifat fisik atau materi, tetapi juga kebutuhan emosinya. Ada perilaku-perilaku yang terlihat kurang kooperatif adalah cara anak mencari perhatian misalnya marah-marah padahal ingin diajak main atau dipeluk,” ujar Andini.

Andini mengatakan orangtua harus selalu mengawasi kondisi kesehatan anak, misalnya apakah anak sakit, mengalami luka, kurang tidur, lapar atau keluhan lainnya. Hal tersebut sangat berguna untuk melihat perilaku anak yang tiba-tiba menjadi tidak kooperatif.

Selain itu, orangtua juga perlu mendengar apa yang disampaikan oleh anak walaupun terkesan sepele. Dari situ, anak akan merasa lebih diperhatikan oleh orangtuanya. “Tapi tetap perlu diperhatikan lalu dipilah dan dibimbing untuk menjadi penting atau hanya ‘ingin’ yang bisa ditunda. Tetap berikan pemahaman,” kata Andini.

Tugas orangtua adalah memvalidasi emosi anak agar ia merasa nyaman dengan mendapatkan perhatian yang sesuai saat sedang merasa tidak nyaman dan belum tahu cara mengatasinya. Orangtua wajib membantu dengan memberikan bimbingan cara mengatasinya, misalnya beri cara-cara yang positif sesuai dengan masalahnya.

“Hindari memberikan label ‘negatif’ karena berisiko membuat anak makin tidak nyaman. Selain itu bisa berakibat jangka panjang jika label itu berulang. Misalnya, anak menjadi merasa tidak mampu, tidak baik, atau tidak berharga,” kata Andini.

Sementara itu, orangtua juga bisa memberikan konsekuensi terhadap anak atas perilaku yang tidak sehat. Namun, ini harus disesuaikan dengan tingkat “pelanggarannya”, usia dan kemampuannya. “Hindari memberikan konsekuensi yang menyakiti fisik atau mental,” ujar Andini.

Jika semua cara dan usaha sudah dilakukan dan anak tetap tidak bisa dikendalikan, orangtua bisa meminta bantuan ahli profesional seperti dokter anak, psikolog atau tokoh masyarakat terdekat apalagi jika perilaku anak membahayakan diri, orang lain atau merusak barang.

Orangtua juga wajib meminta bantuan profesional jika perilaku tidak kooperatif tersebut dilakukan anak secara berulang dan bersamaan dengan anak yang menampilkan emosi berlebihan, terganggu pola makan dan pola tidur, serta mengalami kesulitan berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

[ad_2]

Source link

  • Share